Alkisah, dulu tinggallah seekor kucing dengan saudaranya setelah ayah dan ibu mereka meninggal. Mereka hidup berdua di tengah hutan yang tiap hari menurunkan hujan. Suatu ketika Miau, adik dari Miu ingin pergi dari hutan itu untuk mencari ibunya, ia belum percaya bahwa singa hutan sudah memakan ibunya, ia yakin bahwa ibunya masih berada di seberang hutan, sedang menyendiri, tidak ada makanan, kedingingan, dan berteman sepi. Miu yang tidak ingin adiknya kenapa-kenapa tak pernah mengizinkannya untuk pergi dari hutan.
“Tapi ibu di sana sendirian, kedinginan, kakak bodoh! Kakak jahat!”. Ungkap Miau.
Kakaknya hanya terdiam, ia sudah kehabisan cara lagi untuk menyadarkan Miau. Suatu hari, ketika matahari belum muncul dari arah timur, Miau berniat untuk pergi dari rumah pohon itu, ia berjalan seorang diri tanpa tahu tujuan dan arah ke mana. Ia bertemu dengan anak singa yang lucu, bulunya yang tipis membuat Miau menyangka itu adalah sebangsanya. Ia pun berani menyapa.
“Meaooong.. meaooong.. apa kabar saudaraku?”.
Tanpa banyak bicara anak beruang tersebut langsung berlari menghampiri Miau. Miau tidak menyangka kalau anak singa itu segera memeluknya erat. “Mom.. mom..” ucapnya riang gembira.
Sampai suatau saat ketika Miau ingin melanjutkan perjalan, anak singa yang tubuhnya berukuran lebih kecil darinya selalu mengikuti langkah kemanapun ia pergi sambil berucap “Mom.. mom..”.
Sudah berulang kali Miau mencoba lari dari anak singa yang awalnya ia mengira itu adalah seekor kucing. Tapi anak singa itu terus mengikutinya. Ia akhirnya sadar bahwa yang sedang bersamanya adalah seekor singa, dan bukan kucing.
Dari kejauhan terdengar suara raja hutan yang menggelegar. Suaranya begitu besar hingga selururh isi hutan bisa mendengarnya. Miau yang selalu takut dengan singa segera berlari sekencang-kencangnya karena takut ia akan bernasip sama dengan ibunya, yaitu menjadi santapan singa. Ia yang awalnya sangat senang bertemu dengan seekor anak singa yang disangka kucing tersebut akhirnya menjadi geram. Sejak dulu ia sangat membenci singa, semenjak raja hutan tersebut merenggut kebahagiaannya. Ia tak perduli lagi dengan anak singa yang menganggap dirinya adalah ibunya. Ia berlari sekencang-kencangnya meninggalkan anak singa itu seorang diri. Tanpa tersadar ketika sudah jauh berlari, anak singa itu menghampiri Miau dengan membawa seekor tikus hutan di mulutnya. Ia seolah menyodorkan tikus itu dengan mulutnya kepada Miau. Dilepaskanlah tikus yang ternyata sudah mati tersebut dari mulut anak singa, dan lagi-lagi ia berucap “Mom.. mom..”. Tanpa pikir panjang, Miau yang lelah berlari dan lapar akhirnya memakan tikus tersebut. Terlihat anak singa yang dengan lugunya tersebut duduk manis melihat Miau menyukai makanan yang ia bawa. Terlihat wajahnya yang sedikit menunduk dan masih berucap “Mom.. mom..” dengan suara lebih kecil dari sebelumnya. Terlihat pula wajahnya yang agak menahan kecewa. Ia mungkin tersadar bahwa Miau yang dianggap ibunya tak menghiraukannya lagi. Miau yang melihat kejadian itu lalu menghampiri anak singa tesebut dengan memberikan sisa makanannya. Tapi, anak singa tersebut tidak mengambilnya. Ia tetap di posisi semula dengan wajah murung. Miau kembali teringat dengan kejadian dua tahun silam saat dirinya tidak mau makan lalu ibunya menghampiri dan mengelus-elus kepalanya. Ia merasa senang dan akhirnya ia memakan makanannya. Miau lalu melakukan hal yang sama kepada anak singa tersebut. Ia mengelus-elus kepala anak singa dengan tersenyum dan lupa dengan dendamnya terhadap singa karena merasa kasihan dengan anak singa tersebut yang sendirian di hutan yang luas itu.
Langit sebentar lagi gelap, itu artinya hujan akan segera turun, mereka tidak mempunyai tempat untuk berteduh. Anak singa itu masih di posisi awalnya, melengkungkan badan yang artinya ia tengah kedinginan. Ia tidak menghampiri Miau yang sedari tadi pula duduk di atas tumpukan dedaunan, setidaknya daun tersebut bisa memberikannya sedikit kehangatan.
Langit pun semakin gelap, Miau tidak tahu akan pergi ke mana lagi, ia merasa bahwa apa yang ia lakukan akan sia-sia karena ibunya sudah benar-benar tidak ada. Ia akhirnya memutuskan untuk tidur di bawah pohoh itu sampai esok.
Matahari sudah meninggi meninggalkan malam pekat yang dingin, dedaunan tak lagi menampung butiran air. Sekeliling tanah basah menjadi kering, hangat, bersahabat dengan cuaca hari ini. Miau masih malas untuk membangunkan badannya yang letih, terasa malam sangat panjang, waktu tidur pun tak terusik oleh ganggungan binatang-binatang malam pencari makan. Hari ini aku harus pulang ke rumah pohon, kasihan kakakku, pasti dia mengkhawatirkanku karena aku pergi tanpa permisi.
Ketika akan hendak membangunkan badan, ia teringat bahwa semalam ia tak sedang sendirian, ia bersama anak singa malang itu. Mungkin nasibnya sama sepertiku, mencari ibu. Kasihan anak singa itu. Lalu sontak badannya dengan cepat merubah posisi menjadi terbangun. Pandangannya dibuang ke sekeliling hutan belantara itu.
“Mana singa? Mana anak singa itu?? Manaa???”
Miau berlari di sekitar tempat ia tidur semalam, tapi usahanya tak membuahkan hasil. Anak singa itu hilang, entah kemana. Ia menyesal telah berbuat tidak baik terhadap anak singa itu sebelumnya. “Betapa baiknya ia terhadapku.”
Matahari semakin menyengat, semakin ia khawatir dengan keberadaan anak singa yang selama di tengah hutan belantara ini selalu menemaninya. Bahkan ketika ia hendak meninggalkannya, anak singa itu mengikutinya dari belakang dengan membawakan makanan untuknya. Lalu sekarang dia pergi tanpa aku ketahui, tanpa mengucapkan apapun kepadaku.
Miau sekarang seorang diri. Dengan rasa penyesalan yang mendalam, ia mengikuti jalan setapak yang entah akan membawanya ke mana. Mungkin, akan kembali ke rumah pohon, atau bertemu dengan hewan lain, atau bahkan, bertemu dengan ibunya di syurga sana, entahlah~
“Tapi ibu di sana sendirian, kedinginan, kakak bodoh! Kakak jahat!”. Ungkap Miau.
Kakaknya hanya terdiam, ia sudah kehabisan cara lagi untuk menyadarkan Miau. Suatu hari, ketika matahari belum muncul dari arah timur, Miau berniat untuk pergi dari rumah pohon itu, ia berjalan seorang diri tanpa tahu tujuan dan arah ke mana. Ia bertemu dengan anak singa yang lucu, bulunya yang tipis membuat Miau menyangka itu adalah sebangsanya. Ia pun berani menyapa.
“Meaooong.. meaooong.. apa kabar saudaraku?”.
Tanpa banyak bicara anak beruang tersebut langsung berlari menghampiri Miau. Miau tidak menyangka kalau anak singa itu segera memeluknya erat. “Mom.. mom..” ucapnya riang gembira.
Sampai suatau saat ketika Miau ingin melanjutkan perjalan, anak singa yang tubuhnya berukuran lebih kecil darinya selalu mengikuti langkah kemanapun ia pergi sambil berucap “Mom.. mom..”.
Sudah berulang kali Miau mencoba lari dari anak singa yang awalnya ia mengira itu adalah seekor kucing. Tapi anak singa itu terus mengikutinya. Ia akhirnya sadar bahwa yang sedang bersamanya adalah seekor singa, dan bukan kucing.
Dari kejauhan terdengar suara raja hutan yang menggelegar. Suaranya begitu besar hingga selururh isi hutan bisa mendengarnya. Miau yang selalu takut dengan singa segera berlari sekencang-kencangnya karena takut ia akan bernasip sama dengan ibunya, yaitu menjadi santapan singa. Ia yang awalnya sangat senang bertemu dengan seekor anak singa yang disangka kucing tersebut akhirnya menjadi geram. Sejak dulu ia sangat membenci singa, semenjak raja hutan tersebut merenggut kebahagiaannya. Ia tak perduli lagi dengan anak singa yang menganggap dirinya adalah ibunya. Ia berlari sekencang-kencangnya meninggalkan anak singa itu seorang diri. Tanpa tersadar ketika sudah jauh berlari, anak singa itu menghampiri Miau dengan membawa seekor tikus hutan di mulutnya. Ia seolah menyodorkan tikus itu dengan mulutnya kepada Miau. Dilepaskanlah tikus yang ternyata sudah mati tersebut dari mulut anak singa, dan lagi-lagi ia berucap “Mom.. mom..”. Tanpa pikir panjang, Miau yang lelah berlari dan lapar akhirnya memakan tikus tersebut. Terlihat anak singa yang dengan lugunya tersebut duduk manis melihat Miau menyukai makanan yang ia bawa. Terlihat wajahnya yang sedikit menunduk dan masih berucap “Mom.. mom..” dengan suara lebih kecil dari sebelumnya. Terlihat pula wajahnya yang agak menahan kecewa. Ia mungkin tersadar bahwa Miau yang dianggap ibunya tak menghiraukannya lagi. Miau yang melihat kejadian itu lalu menghampiri anak singa tesebut dengan memberikan sisa makanannya. Tapi, anak singa tersebut tidak mengambilnya. Ia tetap di posisi semula dengan wajah murung. Miau kembali teringat dengan kejadian dua tahun silam saat dirinya tidak mau makan lalu ibunya menghampiri dan mengelus-elus kepalanya. Ia merasa senang dan akhirnya ia memakan makanannya. Miau lalu melakukan hal yang sama kepada anak singa tersebut. Ia mengelus-elus kepala anak singa dengan tersenyum dan lupa dengan dendamnya terhadap singa karena merasa kasihan dengan anak singa tersebut yang sendirian di hutan yang luas itu.
Langit sebentar lagi gelap, itu artinya hujan akan segera turun, mereka tidak mempunyai tempat untuk berteduh. Anak singa itu masih di posisi awalnya, melengkungkan badan yang artinya ia tengah kedinginan. Ia tidak menghampiri Miau yang sedari tadi pula duduk di atas tumpukan dedaunan, setidaknya daun tersebut bisa memberikannya sedikit kehangatan.
Langit pun semakin gelap, Miau tidak tahu akan pergi ke mana lagi, ia merasa bahwa apa yang ia lakukan akan sia-sia karena ibunya sudah benar-benar tidak ada. Ia akhirnya memutuskan untuk tidur di bawah pohoh itu sampai esok.
Matahari sudah meninggi meninggalkan malam pekat yang dingin, dedaunan tak lagi menampung butiran air. Sekeliling tanah basah menjadi kering, hangat, bersahabat dengan cuaca hari ini. Miau masih malas untuk membangunkan badannya yang letih, terasa malam sangat panjang, waktu tidur pun tak terusik oleh ganggungan binatang-binatang malam pencari makan. Hari ini aku harus pulang ke rumah pohon, kasihan kakakku, pasti dia mengkhawatirkanku karena aku pergi tanpa permisi.
Ketika akan hendak membangunkan badan, ia teringat bahwa semalam ia tak sedang sendirian, ia bersama anak singa malang itu. Mungkin nasibnya sama sepertiku, mencari ibu. Kasihan anak singa itu. Lalu sontak badannya dengan cepat merubah posisi menjadi terbangun. Pandangannya dibuang ke sekeliling hutan belantara itu.
“Mana singa? Mana anak singa itu?? Manaa???”
Miau berlari di sekitar tempat ia tidur semalam, tapi usahanya tak membuahkan hasil. Anak singa itu hilang, entah kemana. Ia menyesal telah berbuat tidak baik terhadap anak singa itu sebelumnya. “Betapa baiknya ia terhadapku.”
Matahari semakin menyengat, semakin ia khawatir dengan keberadaan anak singa yang selama di tengah hutan belantara ini selalu menemaninya. Bahkan ketika ia hendak meninggalkannya, anak singa itu mengikutinya dari belakang dengan membawakan makanan untuknya. Lalu sekarang dia pergi tanpa aku ketahui, tanpa mengucapkan apapun kepadaku.
Miau sekarang seorang diri. Dengan rasa penyesalan yang mendalam, ia mengikuti jalan setapak yang entah akan membawanya ke mana. Mungkin, akan kembali ke rumah pohon, atau bertemu dengan hewan lain, atau bahkan, bertemu dengan ibunya di syurga sana, entahlah~
-The end-
“Terkadang, kita tidak paham bagaimana orang lain memahami kita..”
Malang, penghujung 2013
iinnata
0 komentar:
Post a Comment
Tuliskan komentar Anda di bawah ini.