Wednesday, January 14, 2015

Ada Hal Lucu di Hidupmu

Diposkan oleh Unknown di Wednesday, January 14, 2015 0 komentar

Terkadang banyak hal lucu yang telah kita ciptakan hingga hari ini, tanpa kita sadari. Hal yang pernah begitu sangat menyakitkan, bahkan sekarang menjadi hal yang sangat menggelikan, lucu.
Mungkin inilah yang dinamakan sebuah “fase”. Fase di mana semua perubahan terjadi. Perubahan menjadi orang yang tak seperti dulu. Aku rasa, orang tua kita yang dulu pernah merasakan di posisi kita saat ini mungkin sebenarnya sedang terbahak-bahak melihat sikap kita yang bahkan seperti orang “bodoh”. Terlalu bergembira di atas sesuatu yang tidak penting. Terlalu bangga atas sesuatu yang dianggap membahagiakan. Padahal, terkadang semuanya tidak se-equivalen itu.

Kalau boleh waktu diutak-atik, aku ingin menjadi tua dulu baru kemudian berakhir menjadi bayi. Hanya tua yang akan membuat kita memahami sebuah perjalanan panjang. Tetapi, jika pun kita menjadi tua terlebih dahulu, kita tidak akan memahami sebuah perjalanan tersebut, karena kita belum mengalami perjalanan panjang yang sebenarnya. Ah, semuanya terlalu lucu untuk ditertawakan.

Kalian tahu, hal yang paling lucu adalah, ketika kalian mencurigai sesuatu, lalu mencari tahu dengan cara-cara yang tersembunyi, kemudian lambat laun kecurigaan tersebut memberikan hasil positif. Sebenarnya kalian terluka, sakit, tapi bagiku itu sebaliknya. Itu adalah lawakan terlucu yang pernah ada. Dalam diam aku tertawa, dalam hening aku menerawang lebih jauh, lalu berpikir dan berkata “aku pernah di posisi itu, dan sangat bodoh pernah berada di posisi itu, dan melakukan hal-hal yang saat ini sangat lucu—ternyata.

Ketahuilah, semua yang terjadi dan pernah kalian lakukan dulu, akan menjadi sesuatu yang lucu saat ini. Coba saja mulai mengingat, hal-hal bodoh yang pernah kalian lakukan. Pernah disuapi ibu dengan menerbangkan sendok yang berisi makanan dan mendaratkannya di mulut kalian, pernah menangis karena berpisah dengan orang yang kalian sayangi, pernah menelpon hingga larut malam bahkan tidak tidur, pernah dipanggil teman tetapi tidak mau menoleh karena terlalu asyik dengan seseorang yang spesial, pernah smsan sampai tidak merasakan kalau jari-jari tangan sampai keriting, bahkan pernah bertengkar untuk sesuatu yang tidak penting. Hahahaha! Kalau boleh aku tulis di sini, tulisannya akan menjadi panjang kali lebar kali tinggi samadengan luas balok! :3

Bahkan, kalian tahu, kita saat ini yang menertawakan kebodohan masa silam, sebenarnya tanpa sadar sedang melakukan kebodohan untuk ditertawakan di masa yang akan datang,. Ya, itulah manusia. Ada saatnya kita sadar, ada saatnya pula kita terlalu terlena dengan kebahagiaan.

Aku di sini hanya ingin memberikan satu quote, “kuat yang sebenarnya adalah ketika kalian mampu tertawa saat menangis, dan menangis saat tertawa.”

Sekian dari aku, selamat memainkan lawakan, aku doakan semoga lucu. ;)


Saat tersadar akan sebuah lelucon,
Lelucon yang berkedok sinetron
Aku pernah menjadi pemain,
Dan sekarang menjadi penonton.


Monday, December 22, 2014

Selamat Hari Ibu

Diposkan oleh Unknown di Monday, December 22, 2014 0 komentar
Hari ibu. Ya, tanggal 22 Desember selalu diperingati sebagai hari ibu. Entah bagaimana kisah dan sejarahnya sehingga setiap tanggal tersebut diperingati sebagai hari ibu. Namun bagi aku sendiri, hari ibu itu merupakan hari di mana kita—seharusnya—mengingat seorang wanita yang sangat berharga dalam hidup kita. Bersyukurlah ketika kita masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk bisa menatap, menggenggam, memeluk, hingga membahagiakan beliau. Satu hal yang membuat beliau bahagia—sebenarnya—seharusnya, yaitu dengan mengucapkan “Aku sayang Ibu”.

Masih ingatkah kapan terakhir kita mengatakan hal seperti itu? Iya, bahkan aku pun, hingga saat aku menulis ini, aku melupa. Mungkin, kebanyakan dari kita menganggap hal tersebut adalah hal yang sepele, tapi ketahuilah, ibu yang mendengar kalimat ungkapan kasih sayang dari anaknya akan merasa sangat bahagia. Ah, sepele. Ah, masa sih? Ah, katrok. Ah, ngga perlu mengatakan hal seperti itu, kan ibuku sudah tahu kalau aku sayang sama beliau. Ah, ungkapan itu ngga penting, yang penting itu adalah bukti. Ah, hanya ucapan. Ah, Ah, Ah, dan Ah yang lainnya. Iya, itu anggapan kita, kan? Tentu. Karena kita belum sepenuhnya menjadi seorang ibu. Tak banyak orang yang bisa mempunyai naluri sebagai seorang ibu. Apalagi kita yang posisinya hanya sebagai anak, kita tak akan pernah tahu rahasia terbesar seorang ibu kepada anaknya. Rahasia kasih sayang yang kita tidak pernah tahu, tak pernah beliau jelaskan, tak pernah beliau deskripsikan, hanya bisa kita rasakan ketika kita sudah sampai pada titik di mana beliau saat ini.

Ibu, kami terlalu kecil untuk bisa mengartikan besarnya kasih sayangmu. Iya kami paham, memberikan kasih sayang bukan hanya di saat 22 Desember seperti hari ini. Seharusnya kasih sayang itu diberikan setiap saat. Tetapi, banyak dari kita yang mungkin lupa, dikarenakan sibuk dengan misi mencari jati diri untuk membahagiakan keluarga, dan lain sebagainya. Melalui momen inilah, tertanggal 22 Desember, sesibuk apapun kita, segiat apapun kita mengejar mimpi, kita akan mengingat sosok itu. Hingga terkadang meneteskan air mata, mengingat setiap langkah yang pernah kita lalui sejak kecil, mengingat kejadian unik saat bersama, mengingat hal-hal yang terlihat bodoh saat kaupercaya bahwa sesendok nasi yang beliau suapi dulu adalah pesawat yang terbang lalu masuk ke mulut. Semuanya indah, dan lucu ketika kaumengingatnya sekarang. Beliau pernah ada, bahkan ketika beliau diambil Tuhan, beliau tetap PERNAH ada.

Ibu, aku ingin momen ini menjadi momen yang indah setiap tahunnya, menjadi momen yang tak tertulis secara resmi di buku, tetapi akan tetap tercatat di dalam memori kita, memori kenangan yang tak akan pernah kita lupakan, sampai mimpi-mimpi ini tercapai, sampai tangan ini lelah menggapai, sampai keringat ini menjadi manis, dan sampai semua orang tahu, Aku menyayangimu, Ibu.


Malang, 22 Desember 2014
Untuk wanita yang kuat menahan hidup
Merelakan apapun demi keluarganya
Demi suami dan anak-anaknya
Wanita sederhana
Namun istimewa
Ibu.


Tuesday, December 16, 2014

Kisah Klasik Studio Photo

Diposkan oleh Unknown di Tuesday, December 16, 2014 0 komentar
Hari ini, aku ingin berterima kasih. Terima kasih untuk semua sahabat yang saat ini masih bertahan menghadapi manusia yang satu ini. Terima kasih untuk semua cinta, terima kasih untuk semua asa, terima kasih untuk segala kasih sayang yang mungkin tak bisa kubalas satu persatu. Aku harap ini hanya tulisan abadi yang takkan pernah terbaca oleh siapapun yang menganggapnya tidak penting. Aku ingin tulisan ini abadi, tak seperti manusia yang keinginnya selalu berubah-ubah setiap saat. Ya, itu sifat alamiah manusia.

Aku pernah bermimpi, bermimpi bisa selamanya berhubungan baik denganmu. Tapi aku salah, semua sudah berubah, semua terlalu sibuk dengan kesibukan masing-masing, bahkan aku, kau, dia, mereka. Kebersamaan kita semua yang dahulu hangat, berubah seketika dan menjadi hambar saat rasa berubah menjadi cinta. Aku benci harus merasakan ini untuk kesekian kalinya. Aku memang bukan orang hebat dalam hal seperti ini, bukan pula orang yang pandai mencari celah untuk mendapatkan kebahagiaan. Tapi mungkin, aku terlalu lihai bersembunyi di balik awan tebal. Aku hobby menggumpalkan awan hingga hitam pekat, membuat mendung sekelilingnya, tapi tak kunjung menjatuhkan titik-titik air, karna aku tahu, bunga-bunga masih ingin memerlukan mentari.

Iya, aku tahu. Kita lelah dengan segala macam perkataan mereka. Dan aku lelah dengan perasaanmu yang selalu terlihat tak menyukai sikap mereka. Aku lelah. Semua potret kehidupanmu, dan semua potret kehidupanku, kita sama-sama menyukainya. Aku ingat satu perkataanmu, dulu, “sifat kita hampir sama ya, apa karena golongan darah kita sama-sama A?”

Mungkin, aku sudah merasa tak nyaman lagi, entah aku yang berubah, kamu yang berubah, atau mereka yang berubah. Semua tak lagi sama. Iya aku tau, tidak ada kehidupan di dunia yang abadi, semuanya akan berubah seiring berjalannya waktu. Semua akan kembali pada jalan yang Ia kehendaki.

Aku bermimpi, dan aku berdoa, semoga kauselalu dilindungi Tuhan, pernah atau tidaknya kau menggores perasaanku, anggap saja itu sebuah pertunjukan wayang, dan itu lucu. Terima kasih untuk semua kisah klasik yang pernah kita lalui. Aku bahagia saat kita saling mencintai, dan maafkan jika sekarang aku mencari jalanku sendiri, di titik yang tak pernah kauketahui.


Aku yakin, waktu yang akan menjelaskanmu, menjelaskan mereka.
Untuk Tuan YieRPi, semua penghuni studio itu.
Dan semua kisah klasik kita.
:”)


Tuesday, October 7, 2014

Kehidupan Sore

Diposkan oleh Unknown di Tuesday, October 07, 2014 0 komentar

Ada cerita tentang pak tua yang berjalan tanpa lelah menjajakan dagangannya. Dengan masing-masing lima bungkus tape di tangan kanan dan tangan kirinya, ia berjalan menyusuri riuh kampus di sore hari. Hamparan mahasiswa yang berada di lingkungan kampus tak membuatnya jera meneteskan keringat. Demi sesuap nasi, demi apapun yang sedang melanda dirinya, ia harus bisa menghasilkan sesuatu yang berharga untuk anak dan istrinya di rumah.

Pak Maksum, begitulah panggilan akrabnya. Hari ini adalah hari di mana seluruh mahasiswa baru memulai perkuliahan untuk pertama kalinya. Hari ini merupakan hari pertama ia menjajakan tapenya keliling kampus setelah vakum karena libur panjang perkuliahan. Ia sadar bahwa mahasiswa-mahasiswa yang berada di kampus itu lah yang kerap membeli dagangannya. Tak jarang dagangannya habis terjual. Tapi, apa yang terjadi?
“Pak, dangannya masih kah?” Ucap seorang perempuan dari bilik mobil depan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya.
“Wah sudah habis, Mbak. Baru saja habis, saya keliling di Gazebo Perpustakaan dan Alhamdulillah semuanya dibeli sama sama salah satu mahasiswa di sana,” ucap Pak Maksum menyunggingkan senyum.
“Yaah, padahal saya mau beli semua pak. Saya ada acara di rumah nanti sama teman-teman, mereka suka dengan juice tape,” jawab Vani dengan wajah sedikit kecewa.
            “Oh, kalau begitu tunggu saya sebentar ya saya mau cari lagi di pasar semoga saja orang tempat saya membeli masih belum pulang.”
“Pasar mana pak?”
“Merjosari,” jawab Pak Maksum sambil berlalu meninggalkan mobil bercat putih dengan hiasan bunga-bunga pink di atasnya. Belum sempat Vani mengiayakan tawaran Pak Maksum tersebut, ia sudah pergi dengan cepatnya menuju luar kampus di jalan Veteran.

Vani menghela napas panjang, tak menyangka Pak Maksum yang jika berjalan saja masih tak sempurna seperti orang kebanyakan. Tapi ketika dihadapkan dengan pembeli yang ia rasa itu adalah raja yang akan membawakannya rezeki yang banyak, ia seolah tak menghiraukan letih tubuhnya yang terlihat tak kuat lagi menahan baban hidup yang begitu rumit.

Satu hal yang bisa menjadikan pelajaran kepada Vani, bahwa ia ketika ke kampus pun selalu membawa mobil sendiri, sedang masih banyak orang di luar sana yang meski berjalan tertatih pun tak pernah mengeluh dan bahagia dengan hidupnya. Lalu pantaskah seorang manusia yang pada dasarnya oleh Tuhan sudah diberi kehidupan yang berbeda masing-masing, selalu mengeluh dan menganggap Tuhan tak berada di dekatnya?

Kehidupan yang berbeda di masing-masing orang memberikan makna bahwa kita tak bisa hidup sendiri, kita semestinya bisa belajar dari kehidupan orang lain yang mungkin tak pernah kita ketahui. Kita hanya tahu hidup kita sendiri, tetapi kita tak pernah tahu bagaimana di luar sana banyak yang lebih berjuang untuk kita, untuk hidup kita. Lihatlah hidup kita seperti apa, racik ia bersama hidup orang lain, maka kauakan mengetahui bagaimana manisnya rasa pahit ketika asam berubah menjadi asin. J

Monday, September 1, 2014

Catatan Mungilku untuk Ayah

Diposkan oleh Unknown di Monday, September 01, 2014 0 komentar

Kutulis kalimat demi kalimat ini sesaat setelah kudengar layangan suaramu di ujung ponsel putih yang kauhadiahi untukku ketika pulang semester tiga lalu. Aku menulis ini ketika bayangan tentangmu hanya bisa kupeluk dalam angan, kaujauh di seberang sana. Menungguku pulang adalah sesuatu yang kaubenci jika waktu terlalu lama, waktu yang belum bisa aku pastikan, maafkan membuatmu khawatir.
Ba’da magrib, saat itu aku sedang menuju kampus untuk praktikum. Ditemani Ririn, sahabatku. Ponselku bordering, “Assalamualaikum, haloo?”. Seseorang berumur setengah abad, suaranya melemah—parau termakan butiran keringat yang setiap hari bercucuran dibakar matahari, melayangkan salam untuk membuka percakapan denganku. Aku mengenal suara itu.
“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, iya pak, ada apa?”
“Ngga ada, lagi di mana?”
“Ini lagi di jalan mau ke kampus, mau praktikum, pak.”
“Oh, iya sudah. Ke kampus dulu aja, bapak kira lagi santai-santai di kos.”
“Lho, ada apa pak?”
“Ngga ada, nanti kalau ada waktu luangnya, kita curhat. Udah, ke kampus gih, nanti telat. Assalamualaikum.”
“Ng..ng.. Waalaikumsalam.”
Seketika telpon terputus, seraya kepalaku masih dihujam kalimat itu berulang kali, “ada apa, ya? Tumben bapak bilang mau curhat”
Ya, beliau mengerti posisiku yang tak ingin aku terlambat ke kampus dan tak ingin kuliahku terganggu hanya karena melayani panggilan teleponnya. Tapi bukan itu yang aku inginkan, aku ingin bicara. Masih, pertanyaan itu menemani perjalananku hingga kampus, “ada apa, ya?”
Praktikum Pemrograman Basis Data untuk kedua kalinya malam tadi, cukup memeras otak, cukup sulit untukku pahami kalau aku mengulang kegiatan bodohku di semester lalu—kurang latihan. Ya, aku harap di semester ini jadwalku lebih bisa terkoordinir dengan baik karena aku tak menyibukkan diriku lagi dengan banyak kegiatan-kegiatan organisasi. Jika pun ikut, tak banyak, setidaknya tidak sampai membunuh waktu belajarku.
Benar, kan? Praktikum kedua ini memeras otak. Sekitar pukul 10.00 baru aku selesai mengerjakannya, itu pun masih banyak anak-anak lain yang masih belum selesai, dan karena cukup letih hari ini, aku langsung pulang.
Perjalanan pulang pun sama. Aku kembali teringat pertanyaan-pertanyaan yang sedaritadi membuatku bingung, bingung karena aku tak pernah mendengarkan kalimat itu dari seorang Ayah yang kusangka tak bisa mencurahkan isi hatinya kepadaku, berbeda dengan mama yang kerap menemaniku menertawakan alur hidup.
“Ada apa, ya?”
Kuraih ponsel dari tas di samping kananku, lalu sebuah pesan singkat kujadikan media mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaanku.
“Maaf, pak. Ini baru selesai praktikum. Ayo telepon.”
Ponselku berdering, tertera nama bapak di sana, langsung kuterima telponnya dengan cepat. Namun tidak berlangsung lama panggilan kedua itu mengudara, beliau mematikan teleponnya lagi setelah kubujuk untuk berbicara tapi beliau menepis dengan sebuah kalimat, “nanti saja kalau sudah pulang, ya.”
Tut..tut..tut… Telepon mati.
Pikiranku untuk kesekian kalinya kembali meluncurkan kalimat itu, “ada apa, ya?”
Ku telusuri jalan-jalan kampus yang masih basah ditinggalkan hujan sore tadi. Bau tanah yang belum menghilang, hamparan bumi yang belum mengering—menjadi saksi jejak kaki yang mungkin sedang menginjak mikroorganisme di tumpukan lumpur hangat dipeluk angin.
Ya, perjalanku dari kampus sampai kos-kosan atau sebaliknya memakan waktu sekitar 10 menit. Tidak membuatku terlalu lelah, kok. Lebih lelah seorang kepala keluargaku di seberang sana yang siang harinya mencari nafkah untuk keluarga kecilku—untuk aku bisa berjalan di tempat ini setiap hari. Bersyukur adalah salah satu caraku meringankan beban orangtuaku.
Dalam perjalanan yang hampir tengah malam itu, kusempatkan bertukar pesan dengan bapak.
“Kenapa dimatikan, pak?
“Sampai kos, istirahat. Sudah tengah malam, besok kalau iin santai, kita curhat.”
Subahanallah, sebegitu perhatian beliau terhadapku. Ini kalimat pertama yang membuatku sedikit menyadari lebih dalam. Untuk kita, yang masih mempunyai ayah, ketahuilah, terkadang kita tak pernah menyadari betapa besar sayang beliau terhadap anaknya. Betapa lembut ia membelai kita semenjak masih bayi, bahkan masih di dalam kandungan. Betapa bahagianya mendengar suara tangisan bayi ketika istrinya berjuang di dalam ruangan sempit itu sambil menahan rasa sakit memperjuangkan buah hatinya. Tangisan kita kala itu bak sebongkah emas yang tak bisa dibeli dengan berapa dolar sekalipun.
Hingga sekarang, jika beliau egois, beliau mungkin akan membahagaiakan kita dengan terus memberikan kasih sayangnya setiap waktu, membelai kita saat kesepian, memeluk ketika menangis, tanpa melakukan apapun kecuali hal itu. Tapi apa yang dilakukan seorang ayah? Ia pergi, jauh, meninggalkan kita, meninggalkan istri yang dicintainya, meninggalkan keluarga kecilnya, bahkan berpuluh-puluh kilometer setiap hari ia tempuh hanya untuk mencari setitik kebahagiaan untuk menghadiahi keluarganya di kala pulang. Ia berangkat mungkin saat kita belum terbangun, dan bahkan pulang saat kita sudah terlelap di malam hari. Begitu mewahnya hidup kita—yaa—kita—bukan beliau—yang gosong tersengat terik setiap hari. Tapi, hanya itu yang membuatnya lega dan bahagia, bisa ‘memewahkan’ keluarganya tanpa membuat dirinya ‘mewah’. Begitu berat menjadi seorang ayah—laki-laki—pemimpin.
Dewasa, saat titik itu sedang kita tempuh saat ini. Pernahkah kita dibelai, dipeluk, dimanja berlebihan seperti saat kita masih kecil dulu? Tidak, bukan? Bahkan ia tak pernah cemburu jika kita bertemu ciptaan Tuhan yang lain untuk memulai merasakan ‘cinta’. Ia membiarkan kita yang seharusnya miliknya, dimiliki orang lain. Betapa kecewanya ia jika sampai rasa sayang itu berpindah dengan cepat dengan orang yang mungkin baru saja kita kenal, sedang ia berpuluh-puluh tahun memberi kita nafkah dan kasih sayang. Kautau ibarat apa beliau? Ia ibarat melukis pelangi. Ia berdiam di pojok ruangan gelap seorang diri, kedinginan, menggigil, namun tetap menyunggingkan senyum. Ia melukis pelangi dengan indah dan cemerlangnya, bermodalkan kuas yang nyaris tumpul. Ia paksakan untuk tetap melukis hingga warna itu menyatu, berpadu dengan indah. Ia tak peduli kuas yang ia pakai rusak tergores kanvas, yang ada dalam pikirannya adalah, “pelangi yang aku lukis bisa memberikan warna untuk orang lain, untuk ciptaan Tuhan yang lain—manusia—yang akan menjadi penggantiku kelak—untuk menjaga anakku, saatku mulai menua.
Jikalau ayah adalah seorang yang egois, ia mungkin akan mengatakan, “aku ayahmu, aku yang membesarkanmu dari kecil, seharusnya kamu menurutiku, bukan sama orang lain, memangnya dia yang memberimu makan setiap hari, memangnya dia yang paling cepat mencarimu saat kamu terjatuh dalam gelapnya hidup?”
Tapi apa? Ia tak pernah mengatakan sampai sekasar dan sekeras itu padamu, kan? Ia mungkin cemburu, tapi rasa sayang yang menahannya untuk tidak cemburu. Ia membiarkanmu belajar tentang hidup dengan orang pilihanmu sendiri, kaudianggap sudah dewasa, kaudianggap sudah bisa mengarungi lautan kehidupan sendiri tanpanya, ia bahagia melihatmu bahagia, bahagia dengan pilihan-pilihan yang menurutmu baik. Ia tak bisa melarang, ia hanya bisa mengarahkanmu, ia hanya bisa tersenyum.



Pesan singkat yang membuatku sedikit memahami
Bahwa semua rasa tak selalu berucap
Ada sebagian yang hanya bisa dirasa
Di sini, di hati kecil ini
Darimu, Ayah.


 

just say WHATEVER ツ Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea