Thursday, January 31, 2013

KONSELOR SEBAYA PTIIK UNIVERSITAS BRAWIJAYA

Diposkan oleh Unknown di Thursday, January 31, 2013


Kisah Nyata...

          Pagi itu, tanggal 08 Desember 2012 | 08.00 AM berlangsung acara Pelatihan Konselor Sebaya PTIIK di Labkomdas. Singkat cerita, usai-nya acara tersebut kami diminta untuk membuat ‘paper’ yang isinya tentang percakapan antara konselor (kami) dan client (orang yang dibantu untuk diselesaikan masalahnya).

Well, keesokan harinya tanggal 09 Desember 2012 | 2.57 PM, aku melihat ada  pesan masuk ke handphone ku. Pesan itu bertuliskan “Boleh curhat gak?”.
Ini kesempatan baik. Mungkin pula ini adalah keberuntunganku, langsung dapat client tanpa harus mencari. Sebuah pesan singkat dari seorang perempuan yang mungkin aku kenal, tetapi bertemu pun tak pernah kami lakukan. Ia empat tahun lebih tua dariku.
Memang aneh, aku mengatakan aku mengenalnya tapi tak pernah bertemu dengannya, namun mungkin akan membuang waktu jika aku harus mengutarakannya panjang lebar di sini. Selengkapnya (klik di sini) akan aku ceritakan dan posting tulisan ini di blog pribadiku (www.iinnattha.blogspot.com). Maaf, karena ini forum bebas dan tidak ada ketentuan dalam penulisan, tak ada salahnya sedikit pasang iklan dan promosi. Hehee..
Singkatnya, aku tak begitu akrab dengannya, aku baik padanya pun dia terkadang cuek. Entahlah, aku tidak mengerti jalan pikirannya. Yang penting aku dapat client, itu yang utama. Aku sih cukup mengetahuinya karena ia satu daerah denganku. Ia kerap curhat padaku meskipun kita tidak pernah bertemu. Entah apa yang membuatnya yakin kalau aku akan bisa menampung semua isi hati dan permasalahannya sekaligus memberinya solusi. Sekali lagi, aku tidak mengerti jalan pikirannya.

No problem, pikirku. Yang terpenting aku sudah dapat client yang tidak aku duga-duga sebelumnya. Ia pun demikian. Ibarat dalam bahasa Biologi ‘Simbiosis Mutualisme’ yang artinya kedua belah pihak sama-sama diuntungkan. Ia saat itu membutuhkan seorang ‘problem solver’ dan tanpa sadar pula aku pun menjadikannya client ku untuk tugas Konselor Sebaya ini.

Begini kurang lebih percakapan kami berdua di SMS waktu itu:
L = Inisialnya (client)
A = Aku (konselor)

in message...

L : “Boleh curhat gak?”
A : “Boleh, curhat apa mbak?”
L : “Gimana cara ngelupain orang?”
A: “Jangan pernah mengingat kebaikan orang tersebut, karena dengan begitu mbak jadi semakin inget sama dia dan gak bisa lupain dia”

Aku menjawab saja apa yang ditanyakan karena dia tiba-tiba bertanya tanpa mengilustrasikan penyebab dari keluarnya pertanyaaan tersebut.

L : “Sebenarnya sih udah bisa ngelupain orang itu, tapi tiba-tiba dia muncul lagi, jadi teringat lagi, gimana dong?”
A: “Memangnya apa yang membuat mbak pengen ngelupain orang itu? Kita tidak bisa cari solusinya kalau mbak gak ceritain aku dulu awal permasalahannya dari mana, kan dengan kita tau akar permasalahannya kita bisa tau cara mengatasinya”
L : Dia itu kakak kelasku SMP dulu. Aku seneng ngeliat dia main, apalagi sama saudaranya. Ayo, gimana cara ngelupain dia?”
A : “Nah, terus kenapa ingin ngelupain dia? Masalah penyebab mbak pengen ngelupain dia itu apa?”

Memang harus sabar menghadapi client yang satu ini, pertanyaanku tidak seluruhnya di jawab. Dari sekian kali dia curhat padaku, ia selalu ingin pertanyaannya langsung dijawab tetapi bagaimana cara mengatasi masalah kalau kita tidak tau akar permasalahannya. Iya kan? Hmm, aku kan sudah bilang dari awal kalau aku tidak mengerti jalan pikirannya.

L : “Ya masalahnya sih dia udah ninggalin aku gara-gara teman SD ku dulu yang sekolah di SMPN 1 Selong pindah ke tempat kita berdua di SMPN 1 Peinggasela”

note : SMPN 1 Selong dan SMPN 1 Peinggasela adalah nama sekolah di daerahku (Lombok, NTB).

A : “Oooh, berarti temen SD-nya mbak dulu itu istilahnya jadi pengganggu hubungan mbak sama cowok itu ya?”
L : “Bisa dibilang gitu, bisa juga dibilang gak nggak gitu”
A : “Mbak dan temannya mbak emang pernah pacaran sama dia?”
L : “Iya pernah sih pacaran sama dia”
A : “Yang duluan pacaran itu mbak atau temannya mbak itu?”
L : “Aku sama dia, baru kemudian setelah putus, dia pacaran sama temenku itu”
A : “Lha, kan yang duluan pacaran itu mbak, dan mereka pacaran kan setelah mbak putus”
L : “Tapi anehnya aku dihantui rasa bersalah lho”
A : “Rasa bersalah apa mbak?”
L : “Gimana ya? Dulu itu aku nggak pernah anggap dia di muka umum, tapi anggapnya di dalam hati aja”
A : “Waduh, kesalahan berarti ada di diri mbak sendiri. Lantas sekarang mbak menyesal ya? Memang, bukan penyesalan namanya kalau ia berada di awal. Penyesalan itu selalu berada di akhir mbak. Dan tidak ada gunanya lagi kalau kita terus menyalahkan rasa ‘menyesal’ itu. Daun yang gugur aja gak penah menyalahkan angin. Iya kan. Sekarang bukan waktunya mbak buat terus-terusan mau dihakimi dengan rasa menyesal itu, tapi jadikan kesalahan mbak yang dulu itu untuk mbak belajar jadi lebih baik lagi, jadi lebih menghargai orang lagi, OK mbak J
L : “Nyesel banget! :’( Sakit dah rasanya kayak gini terus, dari dulu sampai sekarang aku tetep teringet”
A : “Seperti kataku tadi, sekarang mbak jangan pernah inget kebaikan dia sama mbak waktu dulu, tapi kalau mbak terus-terusan inget dia, inget keburukan yang udah dia lakuin sama mbak, bila perlu kalau ada jangan pernah simpen apapun benda atau barang dari dia, karena memori kita langsung mengarah ke orang yang ada kaitannya dengan benda/barang tersebut. Coba buka hati buat orang lain. Setidaknya ini cara-cara sederhana buat bisa ngelupain dia”
L :  “Ya sih, tapi gimana yaa?  Iya dah aku akan coba. Tapi tau gak sih, aku pengen banget nyapa dia, tapi kayaknya dia cuek sama aku, jadinya aku malu buat nyapa dia”
A : “Kenapa mbak pengen nyapa dia? Kan katanya mbak pengen ngelupain dia. Apa mbak masih sakit hati? Kan dia gak salah apa-apa, kan mbak yang gak pernah anggap dia sebagai pacar”
L : “Aku gak sakit hati, cuman aku ngerasa gimana yaa?”
A : “Ngerasa gak rela temennya mbak pacaran sama dia, gitu?”
L : “Ya sih, tapi?”
A : “Tapi apa lagi mbak?”
L : “Bantu aku ngelupain dia”
A : “Astagfirullah, kan aku udah kasitau tadi caranya mbak. Sebenarnya kalau mau ngelupain orang itu pertama harus punya niat yang kuat. Niat kalau kita pengen bener-bener ngelupain orang itu, kalau nggak niat yaa apapun kata orang yang membantu kita, kita gak bakal bisa lupa sama orang tersebut. Aku tanya, emangnya mbak niat apa nggak buat ngelupain dia?”
L : “Niat dong”
A : “Nah, kalau gitu, tanamkan di diri mbak kalau mbak ingin bener-bener ngelupain dia dan coba lakuin apa yang aku bilang tadi, semoga berhasil”
L : “Iya semoga aja, Aamiin..”

Beuh, last message yang benar-benar apaa yaa? Sampai-sampai aku tidak tau mau mengatakan apa. Aku sudah kasih solusi dan saran, tapi satupun tidak ada kata terima kasih di akhir pesannya. Ini benar-benar tipe client yang ‘masa bodoh’ sama orang lain, yang terpenting adalah apa yang diinginkannya tercapai. Seperti rantai makanan, merembet ke yang lainnya. Aku membantu menyelesaikan masalahnya namun itu menjadikan masalah baru untukku. Di mana aku harus bisa tahan apapun emosi dan keluhan dalam menghadapinya. Dan sekali lagi ini adalah sebuah masalah untukkku. Sebagai konselor, menghadapi client seperti ini harus dibutuhkan kesabaran, ikuti dan jawab saja apapun yang ia tanyakan, berikan saran dan solusi terbaik, jangan pernah protes secara langsung, tapi buat kesadaran padanya secara pelan-pelan dan tersirat. Karena manusia itu beragam, mempunya sifat-sifat yang berbeda, mempunyai karakteristik yang berbeda-beda, serta pandangan terhadap hidup yang berbeda. J




Writen by : Hurun In Ikhwatika Fitri
Sistem Informasi-B

125150401111024

2 komentar:

Zulfin Hariani said...

wow :D

Ibuk Konselor.. mau curhat dong.. wkwk

Unknown said...

Bolehboleh, 5 ribu per kalimat super yak :D

Post a Comment

Tuliskan komentar Anda di bawah ini.

 

just say WHATEVER ツ Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea