Kisah Nyata...
Pagi itu, tanggal 08 Desember 2012 | 08.00 AM berlangsung
acara Pelatihan Konselor Sebaya PTIIK di Labkomdas. Singkat cerita, usai-nya
acara tersebut kami diminta untuk membuat ‘paper’ yang isinya tentang
percakapan antara konselor (kami) dan client
(orang yang dibantu untuk diselesaikan masalahnya).
Well, keesokan harinya tanggal 09 Desember 2012 | 2.57 PM, aku melihat
ada pesan masuk ke handphone ku. Pesan itu bertuliskan “Boleh curhat gak?”.
Ini kesempatan baik.
Mungkin pula ini adalah keberuntunganku, langsung dapat client tanpa harus mencari. Sebuah pesan singkat dari seorang
perempuan yang mungkin aku kenal, tetapi bertemu pun tak pernah kami lakukan. Ia
empat tahun lebih tua dariku.
Memang aneh, aku mengatakan aku mengenalnya tapi tak pernah bertemu dengannya, namun mungkin akan membuang waktu jika aku harus mengutarakannya panjang lebar di sini. Selengkapnya (klik di sini) akan aku ceritakan dan posting tulisan ini di blog pribadiku (www.iinnattha.blogspot.com). Maaf, karena ini forum bebas dan tidak ada ketentuan dalam penulisan, tak ada salahnya sedikit pasang iklan dan promosi. Hehee..
Memang aneh, aku mengatakan aku mengenalnya tapi tak pernah bertemu dengannya, namun mungkin akan membuang waktu jika aku harus mengutarakannya panjang lebar di sini. Selengkapnya (klik di sini) akan aku ceritakan dan posting tulisan ini di blog pribadiku (www.iinnattha.blogspot.com). Maaf, karena ini forum bebas dan tidak ada ketentuan dalam penulisan, tak ada salahnya sedikit pasang iklan dan promosi. Hehee..
Singkatnya, aku tak begitu
akrab dengannya, aku baik padanya pun dia terkadang cuek. Entahlah, aku tidak
mengerti jalan pikirannya. Yang penting aku dapat client, itu yang utama. Aku sih
cukup mengetahuinya karena ia satu daerah denganku. Ia kerap curhat padaku
meskipun kita tidak pernah bertemu. Entah apa yang membuatnya yakin kalau aku
akan bisa menampung semua isi hati dan permasalahannya sekaligus memberinya
solusi. Sekali lagi, aku tidak mengerti jalan pikirannya.
No problem, pikirku. Yang terpenting aku sudah dapat client yang tidak aku duga-duga sebelumnya. Ia pun demikian. Ibarat
dalam bahasa Biologi ‘Simbiosis
Mutualisme’ yang artinya kedua belah pihak sama-sama diuntungkan. Ia saat itu membutuhkan seorang ‘problem solver’ dan tanpa sadar pula aku
pun menjadikannya client ku untuk
tugas Konselor Sebaya ini.
Begini kurang lebih
percakapan kami berdua di SMS waktu itu:
L = Inisialnya (client)
A = Aku (konselor)
in message...
L : “Boleh curhat gak?”
A : “Boleh, curhat apa
mbak?”
L : “Gimana cara ngelupain
orang?”
A: “Jangan pernah mengingat
kebaikan orang tersebut, karena dengan begitu mbak jadi semakin inget sama dia
dan gak bisa lupain dia”
Aku menjawab saja apa yang
ditanyakan karena dia tiba-tiba bertanya tanpa mengilustrasikan penyebab dari
keluarnya pertanyaaan tersebut.
L : “Sebenarnya sih udah
bisa ngelupain orang itu, tapi tiba-tiba dia muncul lagi, jadi teringat lagi,
gimana dong?”
A: “Memangnya apa yang
membuat mbak pengen ngelupain orang itu? Kita tidak bisa cari solusinya kalau
mbak gak ceritain aku dulu awal permasalahannya dari mana, kan dengan kita tau akar
permasalahannya kita bisa tau cara mengatasinya”
L : Dia itu kakak kelasku
SMP dulu. Aku seneng ngeliat dia main, apalagi sama saudaranya. Ayo, gimana
cara ngelupain dia?”
A : “Nah, terus kenapa
ingin ngelupain dia? Masalah penyebab mbak pengen ngelupain dia itu apa?”
Memang harus sabar
menghadapi client yang satu ini,
pertanyaanku tidak seluruhnya di jawab. Dari sekian kali dia curhat padaku, ia
selalu ingin pertanyaannya langsung dijawab tetapi bagaimana cara mengatasi
masalah kalau kita tidak tau akar permasalahannya. Iya kan? Hmm, aku kan sudah
bilang dari awal kalau aku tidak mengerti jalan pikirannya.
L : “Ya masalahnya sih dia
udah ninggalin aku gara-gara teman SD ku dulu yang sekolah di SMPN 1 Selong
pindah ke tempat kita berdua di SMPN 1 Peinggasela”
note : SMPN 1 Selong dan
SMPN 1 Peinggasela adalah nama sekolah di daerahku (Lombok, NTB).
A : “Oooh, berarti temen
SD-nya mbak dulu itu istilahnya jadi pengganggu hubungan mbak sama cowok itu
ya?”
L : “Bisa dibilang gitu,
bisa juga dibilang gak nggak gitu”
A : “Mbak dan temannya mbak
emang pernah pacaran sama dia?”
L : “Iya pernah sih pacaran
sama dia”
A : “Yang duluan pacaran
itu mbak atau temannya mbak itu?”
L : “Aku sama dia, baru
kemudian setelah putus, dia pacaran sama temenku itu”
A : “Lha, kan yang duluan
pacaran itu mbak, dan mereka pacaran kan setelah mbak putus”
L : “Tapi anehnya aku
dihantui rasa bersalah lho”
A : “Rasa bersalah apa
mbak?”
L : “Gimana ya? Dulu itu
aku nggak pernah anggap dia di muka umum, tapi anggapnya di dalam hati aja”
A : “Waduh, kesalahan
berarti ada di diri mbak sendiri. Lantas sekarang mbak menyesal ya? Memang,
bukan penyesalan namanya kalau ia berada di awal. Penyesalan itu selalu berada
di akhir mbak. Dan tidak ada gunanya lagi kalau kita terus menyalahkan rasa
‘menyesal’ itu. Daun yang gugur aja gak penah menyalahkan angin. Iya kan.
Sekarang bukan waktunya mbak buat terus-terusan mau dihakimi dengan rasa
menyesal itu, tapi jadikan kesalahan mbak yang dulu itu untuk mbak belajar jadi
lebih baik lagi, jadi lebih menghargai orang lagi, OK mbak J “
L : “Nyesel banget! :’(
Sakit dah rasanya kayak gini terus, dari dulu sampai sekarang aku tetep
teringet”
A : “Seperti kataku tadi,
sekarang mbak jangan pernah inget kebaikan dia sama mbak waktu dulu, tapi kalau
mbak terus-terusan inget dia, inget keburukan yang udah dia lakuin sama mbak,
bila perlu kalau ada jangan pernah simpen apapun benda atau barang dari dia,
karena memori kita langsung mengarah ke orang yang ada kaitannya dengan
benda/barang tersebut. Coba buka hati buat orang lain. Setidaknya ini cara-cara
sederhana buat bisa ngelupain dia”
L : “Ya sih, tapi gimana yaa? Iya dah aku akan coba. Tapi tau gak sih, aku
pengen banget nyapa dia, tapi kayaknya dia cuek sama aku, jadinya aku malu buat
nyapa dia”
A : “Kenapa mbak pengen
nyapa dia? Kan katanya mbak pengen ngelupain dia. Apa mbak masih sakit hati?
Kan dia gak salah apa-apa, kan mbak yang gak pernah anggap dia sebagai pacar”
L : “Aku gak sakit hati,
cuman aku ngerasa gimana yaa?”
A : “Ngerasa gak rela
temennya mbak pacaran sama dia, gitu?”
L : “Ya sih, tapi?”
A : “Tapi apa lagi mbak?”
L : “Bantu aku ngelupain
dia”
A : “Astagfirullah, kan aku
udah kasitau tadi caranya mbak. Sebenarnya kalau mau ngelupain orang itu
pertama harus punya niat yang kuat. Niat kalau kita pengen bener-bener
ngelupain orang itu, kalau nggak niat yaa apapun kata orang yang membantu kita,
kita gak bakal bisa lupa sama orang tersebut. Aku tanya, emangnya mbak niat apa
nggak buat ngelupain dia?”
L : “Niat dong”
A : “Nah, kalau gitu, tanamkan
di diri mbak kalau mbak ingin bener-bener ngelupain dia dan coba lakuin apa
yang aku bilang tadi, semoga berhasil”
L : “Iya semoga aja, Aamiin..”
Beuh, last message yang benar-benar apaa yaa? Sampai-sampai aku tidak tau
mau mengatakan apa. Aku sudah kasih solusi dan saran, tapi satupun tidak ada
kata terima kasih di akhir pesannya. Ini benar-benar tipe client yang ‘masa bodoh’ sama orang lain, yang terpenting adalah
apa yang diinginkannya tercapai. Seperti rantai makanan, merembet ke yang lainnya.
Aku membantu menyelesaikan masalahnya namun itu menjadikan masalah baru
untukku. Di mana aku harus bisa tahan apapun emosi dan keluhan dalam
menghadapinya. Dan sekali lagi ini adalah sebuah masalah untukkku. Sebagai
konselor, menghadapi client seperti ini harus dibutuhkan
kesabaran, ikuti dan jawab saja apapun yang ia tanyakan, berikan saran dan
solusi terbaik, jangan pernah protes secara langsung, tapi buat kesadaran
padanya secara pelan-pelan dan tersirat. Karena manusia itu beragam, mempunya
sifat-sifat yang berbeda, mempunyai karakteristik yang berbeda-beda, serta
pandangan terhadap hidup yang berbeda. J
Writen
by : Hurun In Ikhwatika Fitri
Sistem
Informasi-B
125150401111024
2 komentar:
wow :D
Ibuk Konselor.. mau curhat dong.. wkwk
Bolehboleh, 5 ribu per kalimat super yak :D
Post a Comment
Tuliskan komentar Anda di bawah ini.